SEHARUSNYA POLISI INDONESIA BERANI MENGAMBIL TINDAKAN TEGAS SEPERTI INI

Oleh. Arif Rahman Pradana


Selasa, 28 Februari lalu terjadi aksi kekerasan dan pembunuhan di sebuah pasar tradisional di Yecheng profinsi Xianjiang Cina. Polisi setempat menjelaskan kepada AFP bahwa selusin penyerang bersenjatakan parang menyerang orang-orang di pasar tradisional tersebut. dalam penyerangan tersebut 20 orang tewas dan sejumlah orang terluka. Polisi menembak mati para perusuh bersenjatakan pisau yang telah membunuh dan melukai orang-orang yang berada di pusat keramaian di Kota Yecheng, yang berdekatan dengan Kota Kashgar.
Rincian koraban tewas menurut laporan yang dimuat dalam situs biro propaganda Xianjiang menebutkan, 13 orang tewas dibunuh oleh sembilan teroris. Sedangkan polisi akhirnya menembak mati tujuh penyerang dan menangkap dua penyerang lainnya.
Hal serupa diatas beberapa kali terjadi di Indonesia yaitu aksi kekerasan yang melibatkan dua atau lebih kelompok bertikai yang berjumlah lebih dari 10 orang bahkan dapat mencapai ratusan. Diantaranya aksi kerusuhan di Papua mengenai tuntutan pegawai freeport atas peningkatan gaji, aksi kerusuhan di maluku, poso, dan yang terhangat di mesuji dan bima. Selain aksi-aksi tadi yang diekspos oleh media, banyak juga dan sering terjadi aksi tauran pelajar dimana para pelaku membawa senjata tajam dan tidak jarang menimbulkan korban tewas dan luka.
Dalam kasus-kasus tersebut pada umumnya aparat kepolisian tidak bisa berbuat apa-apa dan terkesan melakukan pembiaran. Seperti pada kasus poso yang terekam dalam video ada seorang yang dikejar-kejar oleh orang bersenjatakan parang dan telah ditikam berkali-kali polisi tidak berbuat apa-apa hanya bisa menolong dengan membawanya pergi dari lokasi tanpa melakukan tindakan tegas kepada pelaku. Kasus lain dalam bentrok di mesuji, ada orang yang membawa parang mengejar orang lain dan di lokasi tersebut terdapat polisi namun polisi tersebut tidak bisa berbuat apa-apa, akhirnya korban yang dikejar pelaku yang membawa parang tadi tewas (detail pembunuhannya tidak disebutkan disini karena sangat sadis). Pembiaran tersebut menurut saya bukanlah sebuah kesengajaan tapi polisi dengan situasi tersebut biasanya memiliki dilema yang besar, ketika dia menembak pelaku dikhawatirkan polisi tersebut yang malah akan dituntut karena melanggar HAM atau massa pendukung pelaku malah berbalik menyerang polisi, namun ketika dilakukan pembiaran ketika bentrokan tersebut pecah pasti akan menimbulkan korban jiwa atau luka.
Lain kasus ketika bentrokan tersebut bukan diantara dua atau lebih kelompok tapi antara masa dan polisi, polisi tidak segan melakukan tindakan tegas dengan menembak pelakunya seperti yang terjadi di Trisakti dan Bima.
Saya lebih setuju aparat kepolisian dapat bertindak tegas terhadap pelaku kejahatan bersenjata tajam atau api yang tidak bisa dikontrol yang telah bahkan berpotensi melakukan pembunuhan, yaitu dengan tembak ditempat, bila perlu sampai tewas (bila dia melarikan diri). Jangan takut bila massa pendukung pelaku menyerang balik ke polisi, karena memang resiko dari tugas polisi seperti itu, bila takut tidak usah menjadi polisi. Hendaknya polisi juga tidak melakukan tindakan yang berbeda ketika terjadi kerusuhan baik itu menimpa polisi itu sendiri atau menimpa masyarakat umum, semua harus disikapi secara sama. Apabila polisi tidak bisa bersikap tegas terhadap aksi pembunuhan yang dilakukan oleh massa, hal ini dikhawatirkan akan terjadi di tempat lain karena pelaku beranggapan ketika kekerasan dilakukan bersama-sama polisi tidak bisa berbuat apa-apa.

Penipu, Menghilangkan Nurani dan Mengeraskan Hati


Oleh. Arif Rahman Pradana

Malam itu sekitar pukul 23 sepulang saya dari jatinangor saya berjalan di lorong pertokoan Jembatan Merah Bogor, sepanjang jalan terlihat sekitar 10-20 orang tidur di pelataran toko yang hanya 2,5 meter jaraknya dari jalan raya. Beragam orang yang tidur disana, dari tukang becak, pengemis, wanita dan anaknya, bahkan ada juga orang gila. Situasi ini masih persis sama seperti 6 bahkan 9 tahun lalu ketika saya masih SMP. Tidak ada perubahan yang semakin baik bahkan situasi ini bertambah buruk.
Kesokan harinya ketika saya diperjalanan untuk membeli oleh-oleh asinan bogor di daerah Sukasari, saya melewati Pasar Bogor (sekitar Kebun Raya Bogor) saat itu sekitar pukul 13 saya melihat pula seorang tidur di pinggir jalan namun pinggir jalan yang ini bukan di terotoar tapi benar-benar dipinggir jalan hanya berjarak sekitar setangah meter dari lalu-lalang ban angkutan umum (angkot). Saya sendiri yang saat itu menggunakan sepeda motor merasa bingung beragam pikiran di benak saya, antara orang itu sudah mati ataukah sedang tidur, bila tidur mengapa tidur dijalanan dan bila mati kenapa orang disekitar tidak mengamankannya, entahlah. Dan tentang asal muasal orang itu saya juga bingung, entah seorang pengemis atau orang gila. Yang jelas saat itu saya tidak punya keberanian dan tidak tau harus berbuat apa kepada orang tersebut, namun satu perasaan yang sama dari semua yang saya lihat saya merasa sangat miris dengan keadaan tersebut, betapa tidak adil negara ini, para pejabat diatas sana yang sudah memiliki kekayaan melimpah tetap saja merasa tidak cukup dan mengeruk terus uang rakyat dengan cara korupsi!
Namun bukan tentang korupsi yang ingin saya bahas disini, dari fakta diatas tentang penderitaan sebagian kecil rakyat saya merasa sangat kecewa! Sesungguhnya orang yang mesti dibantu itu banyak. Namun semua itu terkabur atau tersamarkan oleh banyak orang yang melakukan penipuan untuk mendapatkan rupiah dari orang yang merasa berbelas kasihan kepadanya. Banyak kisah dari fakta-fakta yang ada yang saya baca dan lihat tentang pengemis yang sesungguhnya memiliki harta berlimpah dikampung halamannya, bahkan memiliki kontrakan yang banyak.
Dan saya mendapat cerita dari seorang teman yang telah mengadakan kegiatan di kampusnya dan mengundang para pengamen jalanan untuk diajak pindah profesi, namun pengamen tersebut enggan karena penghasilannya sebagai pengamen lebih besar (100rb/hari) dari profesi yang ditawarkan. Bayangkan 200rb/hari berarti sekitar 6juta perbulan penghasilan ini berkalilipat lebih besar dari gaji seorang PNS baru. Namun hal tersebut tidak terlalu bermasalah untuk saya karena pengamen tersebut mendapatkan uang tersebut atas hasil bekerja (mengamen/menyanyi). Kekhawatiran itu muncul ketika melihat dipojokan jalan pengamen tersebut menghisap tembakau yang saat ini memang merebak di Indonesia (baca: rokok), tidak jarang meneguk beberapa botol minuman keras, dan menghisap aibon. Saya tidak rela uang yang saya berikan dipergunakan untuk hal-hal semacam itu.
Pengalaman saya pribadi bertemu dengan seorang ibu di pinggir jalan dekat pangkalan polisi pangdam yang meminta ongkos untuk pulang, ia beralasan dompetnya dicuri sehingga ia tidak bisa pulang ke Majalaya. Akhirnya saya berikan sedikit uang (tidak bermaksud Ria) namun beberapa saat kemudian setelah saya menyebrang jalan dan melihat ibu-ibu tadi ternyata ibu tersebut sedang menghitung beberapa lembar uang yang jumlahnya saya kurang tahun namun terlihat cukup tebal dan ada beberapa lembar uang 10rb disana. Padahal ongkos ke majalaya tidak sebanyak itu.
Ada lagi orang yang mengemis dengan berbagai macam luka bakar di sekujur tubuhnya, namun dari televisi yang saya lihat, sebagian dari pengemis tersebut melumuri tubuhnya dengan lem yang pada akhir pengerjaannya sangat mirip seperti luka bakar yang masih basah. lebih mengherankan lagi ada pengemis yaitu seorang ibu di dekat tempat tinggal saya di jatinangor bertubuh gemuk (bukan buncit). Kalau buncit saya bisa beranggapan ia memiliki penyakit namun bila gemuk apakah itu karena kelebihan makan? Kalau kelebihan makan berarti kelebihan uang dan kalau kelebihan uang mengapa mengemis?
Tentang seorang anak yang mengemis sampai saat ini juga menjadi dilema, ketika anak tersebut selalu kita beri uang maka anak tersebut akan terus digunakan oleh orang tuanya untuk mengemis bukannya sekolah karena potensial untuk menghasilkan uang banyak, namun bila tidak diberi bisa jadi anak tersebut benar-benar sebatang kara.
Ketika orang-orang tadi berusaha dengan berdagang untuk mendapatkan uang itupun masih mencurigakan, seperti penjual mangga asongan di bus-bus atau kereta yang kabarnya sebagian menggunakan pewarna tekstil, menjual gorengan menggunakan campuran plastik, dll. Semua fakta diatas membuat saya kesal dan benar-benar bisa mengeraskan hati karena tidak tahu mana yang meminta atau menjual dan benar-benar membutukan dan mana yang meminta atau menjual karena profesi atau menipu. ini bukan tentang uang tapi tentang kebenaran dan bagaimana caranya menghukum para penipu tersebut.

Bila mereka boleh memiliki Nuklir, kenapa Iran tidak

Oleh. Arif Rahman Pradana


Berbagai cara dilakukan Amerika dan Israel untuk menghentikan program nuklir Iran. Dimulai dari pemberlakuan larangan impor minyak Iran 31 Desember 2012 AS dan 23 Januari 2012 UE, pembekuan aset bank sentral Iran Senin 6 Februari 2012, juga melakukan pembunuhan terhadap Ilmuan nuklir Iran seperti yang terjadi 11 Januari 2012 di Teheran.
Tentang Nuklir
Setiap negara sebaiknya memiliki hak untuk mengembangkan teknologi nuklir (bukan senjata) untuk kemaslahatan. Seperti halnya Jepang dan puluhan negara lain semestinya Iran memiliki hak yang sama tentang kepemilikan teknologi nuklir dengan tujuan damai.


Status energi nuklir secara global:██ Mengoperasikan reaktor, sedang membangun reaktor baru██ Mengoperasikan reaktor, berencana membangun baru██ Tidak mempunyai reaktor, sedang membangun reaktor baru██ Tidak mempunyai reaktor, berencana membangun baru██ Mengoperasikan reaktor, berencana tetap mengoperasikan██ Mengoperasikan reaktor, berencana menutup reaktor██ Energi nuklir untuk penduduk sipil adalah ilegal██ Tidak mengoperasikan reaktor


Tentang Senjata Nuklir

Bisa dibilang negara yang memiliki senjata nuklir adalah negara-negara yang PENGECUT. Karena tidak berani perang berhadapan langsung. Dan penggunaan senjata nuklir adalah pelanggaran HAM besar karena dalam pelaksanaannya senjata nuklir dapat menghancurkan semua, bahkan anak-anak, perempuan, dan semua ekosistem yang berada dalam jangkauan bom tersebut. Dalam serangan Hirosihma dan Nagasaki yang menewaskan 220.000 manusia Presiden AS saat itu Harry S. Truman yang bertanggung jawab sepenuhnya atas kebijakan itu seharusnya di kategorikan sebagai penjahat perang.





sumber : Wikipedia.com dan republika.co.id

Satu Kesalahan Media dan Hukum di Indonesia

Oleh. Arif Rahman Pradana

Satu lagi kasus pemerkosaan di angkutan umum terjadi di kota Bogor. Kejadian tersebut terjadi ketika korban pulang menuju rumahnya pukul 8 malam, pada awalnya korban tidak sendiri dalam angkutan umum tersbut yaitu sekitar 7 orang, namun dalam perjalanan penumpang lain turun dan tinggallah korban yang baru berumur 15 tahun itu dan pelaku.
Kejadian yang persis seperti ini terus berulang, terhitung sudah 3 kejadian semejak Livia mahasiswi Universitas Bina Nusantara yang menaiki mikrolet jurusan Srengseng-Slipi, setelah itu terjadi kepada RS dijurusan angkot Lebakbulus-Ciputat dan terakhir yang di Bogor ini. Kejadian seperti ini kerap berulang setelah di ekspos oleh media, seperti aksi beramai-ramai di Bima, Mesuji, atau peristiwa pembakaran rumah Bupati Bima.
Semakin di ekspos, kejadian tersebut seolah-olah suatu hal yang lumrah karena sering juga terjadi berbagai daerah. Sehingga orang tidak segan melakuan aksi selanjutnya setelah melihat contoh di televisi. Contoh selanjutnya aksi tukang gorengan berplastik. Setelah beritanya ramai di televisi semakin menjamur pula pedagang gorengan yang menggunakan plastik.
Satu hal yang mesti diperhatikan, seharusnya berita di media harus diimbangi dengan ancaman hukuman yang terus disampaikan ketika berita itu disiarkan, dan ancaman hukuman ini harus lebih ditekankan dibanding cerita kehebohan kejadian. Sehingga media bukan menjadi alat menyebar perilaku tersebut tapi malah alat publikasi permerintah tentang ancaman hukuman pelaku kejahatan dan diharapkan dengan itu timbul efek jera bagi calon pelaku kejahatan.
Pengulangan kejadian ini merupakan bukti ketidakadilan dan tiadanya efek jera hukum di Indonesia. Seharusnya hukum yang diterapkan setimpal namun pada kenyataannya tidak. Seperti membunuh dalam kriteria tertentu bahkan bisa hanya mendapat hukuman 6 tahun penjara, yang seharusnya hukuman mati atau minimal hukuman seumur hidup.

Organisasi Kemahasiswaan (BEM/BPM) di Unpad Saat ini Kembali Ke Zaman 1960an


Oleh. Arif Rahman Pradana


Saya kira novel Soe Hok Gie catatan seorang demonstran terbitan LP3ES adalah novel yang mesti direkomendasikan kepada mahasiswa yang mengaku sebagai para aktivis perjuangan pro-rakyat. Dalam novel tersebut tergambar perjuangan para mahasiswa melawan rezim orde lama dan orde baru, dari presiden seumur hidup soekarno sampai tragedi G30SPKI. Agar lebih mudah mengalanisa apa yang dilakukan Soe Hok Gie bisa tergambar dalam film Gie.
Poin yang saya ingin tonjolkan dalam novel dan film ini adalah bagaimana sikap tidak simpati Gie atas berbagai kepentingan organ ekstra kampus yang mencoba menancapkan penaruhnya di organisasi kemahasiswaan internal kampus UI saat itu seperti, GAMKI (Gerakan Angkatan Muda Keristen Indonesia) HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) GMNI (Gerakan Mahaiswa Nasional Indonesia) PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) dimana Soe Hok Gie saat itu menyebut mereka antek-antek dari cabang organisasi politik besar. Ada latar belakang mengapa Soe tidak suka dengan organ ekstra tersebut, akan ada persaingan tidak sehat ketika calon-calon ketua senat saat itu di-backing-i oleh organ ekstra tertentu, karena mereka berangkat dari perbedaan bukan dari persamaan yaitu mahasiswa UI.
Sama halnya dengan perhelatan pemilihan Ketua/Presiden BEM di Unpad saat ini. terjadi tarik menarik-kepentingan dari berbagai organ ekstra yang melatar belakangi calon Presiden BEM Kema saat ini, sebenarnya saya sudah bisa merasakan kepentingan-kepentingan tersebut dari ketika saya menjadi mahasiswa baru, sangat terlihat tarik-menarik kepentingan di Fakultas Sastra saat itu. Sehingga sampai saat yang lalu ketika debat calon Presiden BEM Kema Unpad jelaslah sudah organ ekstra yang melatarbelakangi setiap calon Ketua/Presiden BEM. Saya sangat muak dengan keadaan itu, kenapa kepentingan organisasi eksternal dimasukan kedalam organisasi Internal? Bila hal tersebut terus dilakukan oleh subjek-subjek organ ekstra bisa dilihat yang terjadi, yaitu konflik internal di Unpad. Konflik sesama aktivis mahasiswa. Dan selanjutnya yang terjadi, konflik yang terjadi di pemilu tidak cukup sampai disitu, tapi akan terus terjadi selama berjalannya pemerintahan calon terpilih, bukan hanya di atas panggung perdebatan saat kampanye, tapi akan selalu terjadi perdebatan dimanapun. Ini merupakan langkah mundur dalam organisasi kemahasiswaan, kita kembali ke zaman 1960an dimana tarik menarik kekuasaan organ ekstra di intra kampus luas terjadi.
Terlebih yang paling membuat saya miris, organ ekstra besar yang saat ini sedang bersaing sama-sama dari organisasi berlatar Islam. Entah kenapa mereka malah saling “menyerang” satu sama lain. Saya faham, mungkin dengan mencalonkan calonnya menjadi Ketua/Presiden BEM akan memudahkan dalam berdakwah. Namun ketika itu terjadi akan banyak timbul perasaan tidak simpati dari berbagai pihak, dari mahasiswa non-Islam, mahasiswa Islam yang lebih cenderung liberal, dll. Dan yang terjadi adalah konflik dikalangan mahasiswa itu sendiri. Sepengetahuan saya Rasullulah dulu memberikan pemahaman/berdakwah terlebih dahulu kepada manusia yang hidup saat itu tentang kebenaran dan keadilan ajaran Islam, setelah dakwah itu berhasil dan umat Islam sudah kuat baru mendirikan pemerintahan Islam. Bukan mendirikan pemerintahan Islam dulu baru mencoba memperluas pengaruhnya. Dari pada sibuk berebut kekuasaan lebih baik berberbut memberi kontribusi, misal advokasi perbaikan mushola diwilayah UKM yang airnya sering mati, advokasi berbagai fasilitas yang kurang perawatan baik bangunan lama maupun baru, tempat pembuangan sampah akhir yang belum dimiliki unpad sehingga sampah masih dibuang diarea fakultas dan pemusnahannya dengan cara dibakar, dll. Masih banyak yang mesti diurusi kawan dibanding konflik internal dan berebut kekuasaan.
Saya memang ikut (lebih tepatnya pernah ikut) salah satu organ ekstra, tapi saya tidak pernah mencampurkan urusan organ ekstra dan intra kampus. Sehingga sampai saat ini organ yang bersebrangan dengan organ ekstra yang pernah saya ikuti terus menyerang saya. Rasanya seperti Dosa besar saya mengikuti organ ekstra tersebut sehingga mendapatkan tuduhan dan serangan yang cukup sering membuat saya jengkel. Padahal saya sendiri sudah tidak pernah mengikuti kumpul organisasi tersebut, tapi kenapa orang memperlakukan saya seperti ini? Saya tidak anti organ ekstra, tapi saya anti ketika organ ektra sudah dicampur adukan dengan organ intra. Saya lebih setuju setiap orang mengikuti organ ekstra hanya untuk pengembangan diri tanpa mencoba menancapkan pengaruhnya didalam organ intra. Boleh berbeda warna entah merah, hijau, putih tapi tetap sama satu Unpad.
“Sebaik-baik manusia di antaramu adalah yang paling bermanfaatnya bagi orang lain.”

Kisah Umar Bin Abdul Aziz

Mungkin kita sangat merindukan seorang pemimpin yang bisa memimpin dengan sepenuh hati untuk mensejahterakan umatnya sebagai mana yang dicontohkan oleh Khalifah Umar Bin Abdul Aziz, Semoga kisah ini dapat menjadi renungan dan inspirasi kita bagaimana sebenarnya menjadi seorang pemimpin.

1. Halalnya Uang Belanja Dalam Sepotong Roti
Alkisah pada suatu hari Khalifah Umar Bin Abdul Aziz disediakan makanan oleh Istrinya yang beda dari biasanya.. saat itu ada sepotong roti yang masih hangat, harum dan wangi tampak roti itu begitu lezatnya hingga membangkitkan selera.
Sang Khalifah merasa heran dan bertanya pada Istrinya : “ Wahai Istriku dari mana kau memperoleh roti yang harum dan tampak lezat ini ? “.
Istrinya menjawab “ Ooh itu buatanku sendiri wahai Amirul Mukminin , aku sengaja membuatkan ini hanya untuk menyenangkan hatimu yang setiap hari selalu sibuk dengan urusan negara dan umat “.
“ Berapa uang yang kamu perlukan untuk membuat roti seperti ini “ tanya Khalifah.
“ Hanya tiga setengah dirham saja , kenapa memangnya“ jawab sang istri
“ Aku perlu tahu asal usul makanan dan minuman yang akan masuk ke dalam perutku ini, agar aku bisa mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah SWT nanti “ jawab Khalifah, dan bertanya lagi “ terus uang yang 3,5 dirham itu kau dapatkan dari mana ? “.
“Uang itu saya dapatkan dari hasil penyisihan setengah dirham tiap hari dari uang belanja harian rumah tangga kita yang selalu kau berikan kepadaku , jadi dalam seminggu terkumpulah 3.5 dirham dan itu cukup untuk membuat roti seperti ini yang halalan toyyiban “ jawab istrinya.
“ Baiklah kalau begitu . Saya percaya bahwa asal usul roti ini halal dan bersih “ kata Khalifah yang lalu menambahkan “ Berarti kebutuhan biaya harian rumah tangga kita harus dikurangi setengah dirham, agar tak mendapat kelebihan yg membuat kita mampu memakan roti yang lezat atas tanggungan umat “.
Kemudian Khalifah memanggil Bendahara Baitul Maal (Kas Negara) dan meminta agar uang belanja harian untuk rumah tangga Khalifah dikurangi setengah dirham. Dan Khalifah berkata kepada istrinya “ saya akan berusaha mengganti harga roti ini agar hati dan perut saya tenang dari gangguan perasaan, karena telah memakan harta umat demi kepentingan pribadi “.
Subhanalaah …Cerita ini benar2 mengandung keteladanan dari seorang Khalifah atau Presiden pimpinan negara yang begitu kuat berprinsip dan berhati-hati bahwa apapun yang dimakan dan minum harus benar2 tahu asal usul nya bahwa semua itu didapat secara halal dan benar. sebagai khalifah dia juga tak mau menggunakan serta menghamburkan uang negara untuk kepentingan pribadi. kalau biaya rumahtangganya cukup 3 dirham sehari kenapa mesti 3.5 dirham.

2. Dua Setengah Tahun Memerintah Berhasil Mengentaskan Kemiskinan Seluruh Umat
Umar berhasil mensejahterakan rakyat di seluruh wilayah kekuasaan Dinasti Umayyah. Ibnu Abdil Hakam meriwayatkan, Yahya bin Said, seorang petugas zakat masa itu berkata, ‘'Saya pernah diutus Umar bin Abdul Aziz untuk memungut zakat ke Afrika. Setelah memungutnya, saya bermaksud memberikan kepada orang-orang miskin. Namun saya tidak menjumpai orang miskin seorangpun".
Di bidang fiskal, Umar memangkas pajak dari orang Nasrani. Tak cuma itu, ia juga menghentikan pungutan pajak dari mualaf. Kebijakannya itu telah menumbuhkan simpati dari kalangan non Muslim sehingga mereka berbondong-bondong memeluk agama Islam. Inilah sebenarnya cara penyebaran islam dengan akhlaq mulia seperti dicontohkan Nabi Muhammad SAW, bahwa Islam Tidak Mengajarkan Kekerasan
Konon semasa ia menjabat sebagai Khalifah, walaupun hanya 2,5 tahun tak satu pun mahluk dinegerinya menderita kelaparan. Tak ada serigala mencuri ternak penduduk kota, tak ada pengemis di sudut-sudut kota, tak ada penerima zakat karena setiap orang mampu membayar zakat. Lebih mengagumkan lagi, penjara tak ada penghuninya. Sejak di angkat menjadi Khalifah Umar bertekad, dalam hatinya ia berjanji tidak akan mengecewakan amanah yang di embannya. Akhirnya dia berhasil mengelola negara dan memanifestasikan hadits Nabi SAW, “Seorang imam (khalifah) adalah pemelihara dan pengatur urusan (rakyat), dan dia akan diminta pertanggungjawabannya terhadap rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

3. Siapakah Umar Bin Abdul Aziz itu
Umar bin Abdul Aziz adalah seorang Khalifah atau Presiden yang memimpin Pemerintahan Islam selama 2,5 tahun yaitu pada tahun 717 M s/d 720 M. Beliau dilantik menjadi Khalifah pada usia 37 tahun , usia yang tergolong muda untuk memimpin sebuah negara Islam yang besar dan luas kala itu.
Ayahnya adalah Abdul Aziz bin Marwan, yaitu Gubernur Mesir dan adik dari Khalifah Abdul Malik. Ibunya bernama Ummu Asim binti Asim. Umar bin Abdul Aziz adalah cicit dari Khulafaur Rasyidin kedua yaitu Umar bin Khattab, dimana umat Muslim menghormatinya sebagai salah seorang Sahabat Nabi Muhammad SAW yang paling dekat dan dimasa pemerintahannya berhasil mengembangkan dan memperluas wilayah kekuasaan Islam .
Umar bin Abdul Aziz sangat bersedih ketika diberi jabatan (amanah) oleh umat untuk menjadi Khalifah , ini dikisahkan oleh isterinya, Fatimah yang melihat Umar sedang menangis di kamarnya. Fatimah pun menanyakan apa yang terjadi pada diri suaminya. Lalu Umar menjawab, “Ya Fatimah, saya telah dijadikan penguasa atas kaum muslimin dan orang asing, saya memikirkan nasib kaum miskin yang sedang tertimpa kelaparan, kaum telanjang dan sengsara, kaum tertindas yang sedang mengalami cobaan berat, kaum tak dikenal dalam penjara, orang-orang tua yang patut dihormati, orang yang mempunyai keluarga besar namun penghasilannya sedikit, serta orang2 dalam keadaan serupa di Negara-negara di dunia dan propinsi-propinsi yang jauh. Saya merasa bahwa Tuhanku akan bertanya tentang mereka pada Hari Berbangkit dan saya takut bahwa pembelaan diri yang bagaimana pun tidak akan berguna bagi saya. Lalu saya menangis.” Subhanallah begitu sedihnya beliau menerima jabatan itu.
Tugas negara adalah mengubah teori menjadi kenyataan, mengubah norma menjadi undang-undang, dan memindahkan keindahan etika .menjadi praktek sehari-hari.” (Yusuf Qardhawi )

4. Khalifah Umar Bin Abdul Aziz Dan Lilin Negara
Pada Suatu malam datang seorang utusan dari salah satu daerah dan sampai di depan pintu rumah Khalifah menjelang malam. Setelah mengetuk pintu seorang penjaga menyambutnya. Utusan itu pun mengatakan, “Beritahu Amirul Mukminin bahwa yang datang adalah utusan gubernurnya.” Penjaga itu dan memberitahu Umar yang hampir saja berangkat tidur. Umar pun duduk dan berkata, “Ijinkan dia masuk.”
Utusan itu masuk, dan Umar memerintahkan untuk menyalakan lilin yang besar. Umar bertanya kepada utusan tersebut tentang keadaan penduduk kota, dan kaum muslimin di sana, bagaimana perilaku gubernur, bagaimana harga-harga, bagaimana dengan anak-anak, orang-orang muhajirin dan anshar, para ibnu sabil, orang-orang miskin. Apakah hak mereka sudah ditunaikan? Apakah ada yang mengadukan?
Utusan itu pun menyampaikan segala yang diketahuinya tentang kota tanpa ada yang disembunyikannya kepada Khalifah.
Semua pertanyaan Umar dijawab lengkap oleh utusan itu. Ketika semua pertanyaan Umar telah selesai dijawab , utusan itu balik bertanya kepada Umar.
“Ya Amirul Mukminin, bagaimana keadaan dirimu sendiri ?, Bagaimana keluargamu, seluruh pegawai dan orang-orang yang menjadi tanggung jawabmu ? . Umar pun kemudian dengan serta merta meniup lilin tersebut dan berkata, “Wahai pelayan, nyalakan lampunya!” Lalu dinyalakannlah sebuah lampu kecil yang hampir tak bisa menerangi ruangan karena cahayanya yang teramat kecil.
Umar melanjutkan perkataanya, “Sekarang bertanyalah apa yang kamu inginkan” . Utusan itu bertanya tentang keadaannya. Umar memberitahukan tentang keadaan dirinya, anak-anaknya, istri, dan keluarganya.
Rupanya utusan itu sangat tertarik dengan perbuatan yang telah dilakukan oleh Khalifah Umar dengan mematikan lilin. Dia bertanya, “Ya Amirul Mukminin, aku melihatmu melakukan sesuatu yang belum pernah Anda lakukan.” Umar menimpali, “Apa itu?”
“Engkau mematikan lilin ketika aku menanyakan tentang keadaanmu dan keluargamu.”
Umar berkata, “Wahai hamba Allah, lilin yang kumatikan itu adalah harta Allah, harta kaum muslimin. Ketika aku bertanya kepadamu tentang urusan mereka maka lilin itu dinyalakan demi kemaslahatan mereka. Begitu kamu membelokan pembicaraan tentang keluarga dan keadaanku, maka aku pun mematikan lilin milik kaum muslimin.”
Subhanallah, Segitu besar kesungguhan Umar dalam menjaga harta kaum muslimin.

5. Surat Khalifah Umar Kepada Gubernur Irak
Abu Ubaid mengisahkan, Umar bin Abdul Aziz mengirim surat kepada Hamid bin Abdurrahman, yang pada waktu itu menjabat Gubernur Irak agar membayar semua gaji dan hak-hak rutin di provinsi itu. ‘’Saya sudah membayarkan semua gaji dan hak mereka. Namun di Baitul Mal masih banyak uang”. Khalifah Umar memerintahkan. ‘’Carilah orang yang dililit utang tetapi tidak boros. Berilah ia uang untuk melunasi utangnya.’’
Abdul Hamid kembali menyurati Kalifah Umar. ‘’Saya sudah membayar utang mereka, tetapi di Baitul Mal masih banyak uang.’’ Khalifah memerintah lagi. ‘’Kalau ada orang lajang yang tidak memiliki harta, lalu dia ingin menikah, nikahkan dia dan bayarlah maharnya.’’ Abdul Hamid sekali lagi menyurati Khalifah, ‘’Saya sudah menikahkan semua yang ingin nikah. Namun, di Baitul Mal ternyata masih banyak uang.’’
Pantas kalau pada masa itu dikatakan tak ada satu pun mahluk dinegerinya yang menderita kelaparan. Tak ada serigala mencuri ternak penduduk kota, tak ada pengemis di sudut-sudut kota, tak ada penerima zakat karena setiap orang mampu membayar zakat, kemudian penjara tak ada penghuninya. Subhanallah…

sumber: http://mamattguban.blogspot.com/2011/08/kisah-teladan-khalifah-umar-bin-abd.html

Quotes of the day

"Sekarang sudah bukan zamannya hanya beretorika. Kerja nyata lebih baik dan keduanya lebih utama"

"Apabila anda tidak bisa membantu dengan solusi silahkan berpartisipasi, bilapun tidak sanggup berpartisipasi diamlah dengan pasti, jangan mengotori!"

"Kami salah dalam satu hal bukan berarti dengan sisanya, kamupun tidak mungkin selamanya benar, maka jangan mencari masalah"

"Memang hak kita sejak lahir berbeda, yang terpenting bagaimana kita mencari persamaan dari padanya"

Arif Rahman Pradana
14 November 2011