AKU ADALAH AKU, KAMU ADALAH KAMU, KITA BUKAN DIA

Setiap orang memiliki caranya sendiri untuk membahagiakan dirinya sendiri dan membahagiakan orang lain.
punya cara sendiri untuk bersedih dan menyikapinya
sayang banyak diantara kita yang tidak menerima dengan cara seseorang itu mengekspresikan apa yang dia rasakan.

ketika semua harus disamaratakan lalu apa artinya hidup? manusia bukan sekumpulan tubuh bernama yang harus sesuai dengan apa yang kamu mau, setiap orang punya cara sendiri. biarkan dia berfikir sendiri tentang bagaimana cara dia menjalani hidupnya. selama itu tidak melanggar hak orang lain seharusnya tidak ada yang salah.

kamu memiliki kemerdekaan untuk menentukan jalan mana yang kamu pilih, begitu juga aku. seharusnya aku adalah aku bukan dia seperti yang kamu mau.

PENOLAKAN DAN KEKERASAN MENANDAKAN ANDA TIDAK YAKIN

Oleh. Arif Rahman Pradana

Di Indonesa ataupun di banyak belahan dunia sering kali terjadi gejolak yang disebabkan oleh ajaran agama. Yang terbaru adalah aksi pembakaran rumah warga muslim di negara bagian Rakhine, Myanmar, Selasa 1 Oktober 2013 waktu setempat. Seorang wanita muslim berumur 94 tahun dikabarkan meninggal dunia akibat luka tusukan dalam kejadian ini. Pertikaian ini terjadi setelah sekelompok 'perusuh' Buddha menyatroni desa tersebut.

Aksi intolerasi dalam ajaran agama ini terjadi juga di negara kita, yaitu pada kasus GKI Yasmin. Pada kasus ini, umat Kristiani hendak membangun gereja di sekitar perumahan Yasmin, namun warga setempat menolak pembangunan tersebut.

Fenomena penolakan-penolakan yang disebabkan oleh ajaran agama ini sebenarnya terjadi karena pelaku tidak memahami atau tidak percaya terhadap ajaran agama yang dia anut. Ia tidak percaya ajaran agamanya memberikan ketenangan, keadilan dan kebaikan kedalam jiwa penganutnya. Ini mengakibatkan ia menolak setiap ajaran baru yang datang karena takut ajaran baru tersebut diterima oleh masyarakat pada umumnya.

Sebenarnya yang terjadi tidaklah harus demikian, bila kita meyakini ajaran yang kita anut. Kita akan memiliki toleransi yang besar terhadap ajaran agama lain. Bila suatu umat ingin beribadah kita persilahkan, membangun tempat peribadatan kita persilahkan dan tidak ada tindakan kekerasan. Bila terjadi tidakan kekerasan berarti kita tidak meyakini ajaran agama yang kita anut mampu mempengaruhi umat lain untuk mengikuti keyakinan kita. Biarlah orang menilai dengan sendirinya mana ajaran yang benar menurut hati nurani masing-masing. tidak usah memaksa kehendak dengan melarang umat lain beribadah.

Kebenaran dan kebaikan suatua ajaran agama terlihat dari penganutnya. Ketika penganunya menghargai perbedaan, adil, dan berbudi luhur itu menandakan agama yang dianutnya mengajarkan hal demikian.

PEMIMPIN BEREMPATI, BERANI, DAN ADIL

Oleh. Arif Rahman Pradana

"Bapak saya pernah bilang,  kalau kita punya uang Rp 1 miliar, lalu dibagikan ke orang miskin masing-masing keluarga Rp 500 ribu, hanya bisa bantu 2.000 keluarga saja. Padahal di kampung saya waktu itu ada 9.000 keluarga,"

Sangat luar biasa alasan Ahok menjadi pejabat publik. Ini seharusnya adalah alasaan yang tidak terbantahkan dan tidak bisa dielak oleh pemilih. Tidak berdasarkan ras, agama, harta atau jabatan sebelumnya.

Sangat disayangkan masih saja ada masyarakat kita yang memiliki pandangan sempit, hanya memilih seseorang berdasarkan kriteria tadi. Sebenarnya yang dibutuhkan dari seorang pemimpin selain kecerdasan adalah juga rasa empati. tidak harus pintar segala bidang! percuma orang pintar bila tidak memiliki rasa empati. Karena akar permasalahan biasanya hanya bisa ditemukan ketika kita memiliki rasa empati tersebut. Dengan rasa empati kita akan mencoba menempatkan diri diposisi orang yang kita pimpin, dengan begitu permasalahan akan dapat diketahui, nah disinilah dibutuhkan orang pintar untuk menyelesaikan masalah tadi. Jadi kerangka berfikirnya kita harus mengetahui permasalahan dulu baru bisa dicari penyelesaiannya. Percuma bila banyak orang pintar tapi tidak ada atau tidak tahu masalah mana yang hendak diselesaikan.

Selain empati, kita juga membutuhkan pemimpin yang berani, berani disini bukan berarti hanya berani menumpas kejahatan. Tapi berani mengambil keputusan dan menyatakan yang BENAR adalah BENAR dan yang SALAH adalah SALAH. Tidak selamanya berani disini melawan orang jahat, tapi bisa jadi melawan orang baik yang salah pemahaman. Bukan juga berani melawan yang lemah tapi berani melawan atasan. karena pada dasarnya kita tidak boleh takut terhadp apapun selama itu BENAR.

Adil, tidak memandang ras, keluarga atau agama. ketika itu baik harus diperjuangkan dan ketika itu buruk harus ditindak. tidak memandang mayoritas atau minoritas, tidak memandang orang kecil atau orang besar (kaya). ketika pedagang kaki lima berjualan di tepian jalan dan mengganggu lalu lintas harus di tertibkan. tidak ada alasan karena dia orang kecil jadi boleh melanggar aturan. ketika pejabat memarkirkan kendaraannya di tempian jalan juga harus ditertibkan!


MANUSIA SOSIAL MEDIA

 Oleh. Arif Rahman Pradana

Berawal dari friendster, saat ini semakin banyak jenis sosial media. Dari sosial media yang menyediakan berbagai fitur, sampai sosial media yang hanya spesialisasi hal tertentu saja seperti rekaman suara contohnya. Beragam jenis sosial media tersebut, jarang orang yang hanya memiliki satu akun, pasti lebih dari satu.

Saat ini saya mencoba membayangkan apa yang terjadi bila sosial media hilang atau terkena virus selama sebulan lamanya? Atau hilang untuk selamanya? Saat ini sudah terlalu banyak orang bergantung oleh sosial media. Sosial media saat ini bukanlah lagi sebagai kebutuhan tersier atau hiburan semata, tapi lebih dari itu sudah menyerupai kebutuhan primer seperti pakaian, makanan dsb. Coba anda bayangkan apa yang terjadi apabila di suatu kesempatan smartphone anda hilang atau rusak. sedangkan anda pada saat yang sama sedang sendiri berada di luar kota.

Sosial media saat ini memiliki pengaruh yang amat besar. Apa yang terjadi pada seseorang yang jaraknya ratusan hingga ribuan kilometer dapat dengan sekejap di ketahui oleh semua orang. Bahkan Tim suskes Obama menggunakan sosial media untuk kampanyenya, dan berujung kemenangan.

Namun yang amat disayangkan dari media sosial ini adalah sentuhan, sapaan, dan senyuman akrab seorang teman dan sahabat tidak bisa diterjemahkan secara asli. Semua hanya dilihat dari susunan abjad A-Z tanpa diketahui tekanan emosi yang ada didalamnya. Kalaupun bisa hanya bisa di terjemahkan menggunakan emote :) :( atau penulisan huruf besar dan kecil.

Apa yang terjadi apabila tidak ada media sosial? Sepertihalnya saya. Banyak orang yang saat ini sudah terlalu bergatung oleh media sosial. Sekarang tinggal bagaimana cara kita memanfaatkan media sosial ini tanpa menghilangkan unsur penting dalam kekerabatan yang merupakan modal utama manusia sebagai mahluk sosial.

DIRUT PERTAMINA TIDAK HADIR DALAM UNDANGAN DPR, DPR HARUSNYA INTROSPEKSI DIRI


Oleh. Arif Rahman Pradana

Hari ini, Selasa 13 November 2012 Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan beserta staf dan Menteri ESDM Jero Wacik diundang dalam rapat yang diadakan oleh DPR RI Komisi VII. Undangan tersebut terkait dengan adanya dugaan inefisiensi PLN yang ditemukan oleh BPK ketika Dahlan Iskan memimpin sebesar 37,6 Triliun. "Kami melakukan sidang pada reses, karena pentingnya Komisi VII untuk segera melakukan verifikasi kepada pihak-pihak yang terkait dalam audit BPK pada saat 2009-2010," kata Effendy{1} .

Saya menyaksikan rapat tersebut dalam siaran langsung yang ditayangkan oleh tvone baru sekitar pukul 10.30 WIB. Ketika itu anggota DPR RI Komisi VII sedang dipersilahkan untuk bertanya kepada pemerintah (Dahlan Iskan dkk). Namun pertanyaan itu sebagian besar bahkan hampir semua mengarah dan menghakimi Dahlan Iskan. Rapat yang dipimpin oleh Efendi Simbolon ini berjalan sangat lambat dan bertele-tele, sebagai contoh: anggota Fraksi PAN Alimin Abdullah bertanya panjang lebar hampir sekitar 15 menit padahal inti pertanyaannya yang saya simpulkan hanya "menurut bapak inefisiensi yang ada di PLN itu seharusnya lebih besar dari 37,6 Triliun, coba jelaskan pernyataan bapak tersebut". Ini pertanyaan Alimin yang sesuai konteks judul rapat hari itu, sisanya anggota DPR RI yang terhormat itu menjelaskan mengenai Dahlan Iskan cium tangan dia, angkat pintu tol, pencitraan, melaporkan anggota DPR RI ke BK DPR RI, dll yang semua itu diluar konteks. Lebih memprihatinkan lagi pimpinan rapat saat itu membiarkan penjelasan panjang lebar dari setiap anggota DPR RI tanpa memintanya bertanya hanya prihal konteks dan inti pertanyaannya saja. padahal saat itu rapat dijadwalkan selesai pukul 12.00, tapi sampai pukul 14.00 belum selesai sedangkan saat itu mereka belum istirahat shalat dzuhur.

Bukan hanya itu, ada lagi pernyataan anggota DPR RI yang tidak memiliki fakta dan data yang kuat. dikatakan bahwa NTB saat ini sering byar pet (istilah Dahlan Iskan ketika listrik padam), namun faktanya: "Diluar Jawa, tidak ada yang mengalahkan NTB, sambungan baru tahun lalu kita sampai 200 ribu. yang lain paling 40 ribu, kata Akbar Ali, General Manager PLN Wilayah NTB, di Mataram, Selasa (7/8){2}. bahkan saat ini PLN wilayah NTB sedang mengembangkan sumber energi listri baru, tiga diantaranya merupakan pembangkit listrik tenaga uap {3}

Lebih jauh lagi anggota dewan yang terhormat  Tommy Adrian Firman dari Fraksi PPP bertanya mengenai bisnis genset oleh keluarga Dahlan Iskan. Namun lagi-lagi yang terhormat tersebut tidak membawa data yang bisa membuktikan apa yang dikatakannya tersebut. Namun Dahlan Iskan hanya menjawab enteng "yang saya tahun anak saya bisnis kaos, didalamnya terdapat gambar genset", jawaban tersebut selanjutnya disambut tawa oleh peserta hadir rapat saat itu. Tiba-tiba muncul celetukan dari Wakil Ketua Komisi VII DPR Effendi Simbolon, "Katanya istri yang mana pak"{4}. Apabila celetukan itu disampaikan kepada saya sedangkan saya sudah menjelaskan berkali-kali istri saya hanya satu, saya akan merasa sangat tersinggung dan marah. sungguh celetukan yang tidak pantas di lontarkan oleh anggota yang terhormat, padahal ketika itu dia sebagai pimpinan rapat mengulang2 pernyataan bahwa rapat ini penting dan harus dihargai.

Begitulah rapat yang terjadi di Komisi VII hari ini, maka apabila ditanya mengapa dirut pertamina tidak hadir saat itu, dan mengapa Dahlan Iskan tidak hadir dalam 2 panggilan sebelumnya (yang panggilannya mendadak itu), saya rasa pembaca sudah bisa mengambil kesimpulan masing-masing. Kalau kesimpulan saya karena rapat dengan DPR RI itu TIDAK PENTING! Saya tidak merasa diwakili oleh mereka, dan saya sangat kecewa dengan pertanyaan-pertanyaan dan pernyataan-pernyataan mereka yang tidak berbobot. DPR RI harusnya setiap di kritik introspeksi diri bukannya mengelak dan malah menyalahkan orang!



Penyembelihan hewan sesuai Islam tidak menyakiti hewan. Ini bukti ilmiahnya (no sara)


Oleh : Nanung Danar Dono, S.Pt., M.P.[1]

Saat ini umat Islam banyak dihadapkan pada tudingan-tudingan negatif, sebagai contoh, kita semua tahu bahwa setiap tahun masyarakat Islam merayakan ibadah Qurban. Ibadah tersebut merupakan perwujudan persembahan terbaik kita kepada Allah Swt. Ibadah Qurban dilaksanakan melalui prosesi penyembelihan hewan qurban (sapi, kambing, domba, unta, dll.) dengan cara tertentu. Daging-daging binatang qurban tersebut dibagi-bagikan kepada fakir miskin, masyarakat, dan sanak kerabat.

Akan tetapi, kelebihan ini sering dikaitkan dengan suatu hadits ‘unik’ yang sering ‘diartikan lain’. Hadist tersebut berbunyi: Rasulullah SAW. bersabda : “Sesungguhnya Allah menetapkan kebaikan (ihsan) pada segala sesuatu, maka jika kalian membunuh hendaklah kalian berbuat ihsan dalam membunuh, dan apabila kalian menyembelih, maka hendaklah berbuat ihsan dalam menyembelih, (yaitu) hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya agar meringankan binatang yang disembelihnya” (HR. Muslim).

Hadits ini nampaknya agak sulit untuk dijelaskan. Betapa tidak, di dalamnya terkandung kalimat bahwa seakan Allah memerintahkan kita untuk ‘membunuh’, apalagi ada kata-kata, “…tajamkanlah pisaunya…!” Bukankah ini menunjukkan bahwa umat Islam memang dilatih untuk membunuh dengan kejam. Bahkan yang lebih aneh lagi, ada kalimat, “…meringankan binatang yang disembelih!” (Aneh, khan?! Masak membunuh koq pakai kalimat basa-basi ‘meringankan binatang yang disembelih’! Padahal kita tahu, disembelih khan tentunya sakit sekali!?).

Lalu, bagaimana cara menyikapinya? Menolak tanpa bisa memberi argumen (bantahan) atau menerima dengan setengah hati? Sebegitu sulitkah kita meyakinkan diri bahwa Syari’at Islam adalah syari’at yang terbaik?

Subhaanallah, di tengah-tengah kegundahan umat Islam, dengan sengaja Allah Swt. telah kirimkan jawabannya. Allah Swt. menugaskan 2 orang staf ahli peternakan dari Hanover University, sebuah universitas terkenal di Jerman. Beliau berdua adalah Prof. Dr. Schultz dan koleganya, Dr. Hazim. Berdua beliau memimpin suatu tim penelitian terstruktur untuk menjawab pertanyaan: manakah yang lebih manusiawi dan paling tidak sakit, penyembelihan secara Syari’at Islam (tanpa proses pemingsanan) , atau penyembelihan dengan cara Barat (dengan pemingsanan) .

Beliau berdua merancang penelitian sangat canggih mempergunakan sekelompok sapi yang telah cukup umur (dewasa). Pada permukaan otak kecil sapi-sapi tersebut dipasang elektroda tertentu (microchip) yang disebut Electro-Encephalogr aph (EEG). EEG dipasang pada permukaan otak yang menyentuh titik (panel) rasa sakit di permukaan otak. Alat ini dipakai untuk merekam dan mencatat derajat rasa sakit sapi ketika disembelih. Pada jantung sapi-sapi tersebut juga dipasang Electro-Cardiograph (ECG) untuk merekam aktivitas jantung saat darah keluar.

Untuk menekan kesalahan, sapi dibiarkan beradaptasi dengan EEG dan ECG (yang telah terpasang) beberapa minggu. Setelah masa adaptasi dianggap cukup, separuh sapi disembelih secara Syari’at Islam dan separuh sisanya disembelih secara metode Barat.

Syari’at Islam menuntunkan penyembelihan dilakukan dengan menggunakan pisau yang sangat tajam dengan memotong 3 saluran pada leher bagian depan (saluran makanan, saluran nafas, serta 2 saluran pembuluh darah, yaitu : arteri karotis dan vena jugularis). Syari’at Islam tidak merekomendasikan pemingsanan. Sebaliknya, Metode Barat (Western Method) mengajarkan ternak dipingsankan dahulu sebelum disembelih.

Selama penelitian, EEG dan ECG pada seluruh ternak dicatat untuk merekam keadaan otak dan jantung semenjak sebelum pemingsanan (atau penyembelihan) hingga hewan ternak benar-benar mati. Nah, hasil penelitian inilah yang kita tunggu-tunggu!

Hasil penelitian Prof. Schultz dan Dr. Hazim di Hanover University Jerman adalah sebagai berikut :

Penyembelihan menurut tuntunan Syari’at Islam

Pertama, pada 3 detik pertama setelah disembelih (dan ketiga saluran pada leher sapi bagian depan terputus), tercatat tidak ada perubahan pada grafik EEG. Hal ini berarti bahwa pada 3 detik pertama setelah disembelih tidak ada indikasi rasa sakit.

Kedua, pada 3 detik berikutnya, EEG pada otak kecil merekam adanya penurunan grafik secara gradual (bertahap) yang sangat mirip dengan kejadian deep sleep (tidur nyenyak) hingga sapi-sapi tersebut benar-benar kehilangan kesadaran. Pada saat tersebut, tercatat pula oleh ECG bahwa jantung mulai meningkat aktivitasnya.

Ketiga, setelah 6 detik pertama tersebut, ECG pada jantung merekam adanya aktivitas luar biasa dari jantung untuk menarik sebanyak mungkin darah dari seluruh anggota tubuh dan memompanya keluar. Hal ini merupakan refleks gerakan koordinasi antara jantung dan sumsum tulang belakang (spinal cord). Subhaanallah, pada saat darah keluar melalui ketiga saluran yang terputus di bagian leher tersebut, grafik EEG tidak naik, tapi justeru drop sampai ke zero – level (angka nol). Diterjemahkan oleh kedua ahli tersebut bahwa, “No feeling of pain at all!” (tidak ada rasa sakit sama sekali!) Allaahu Akbar! Walillaahil hamdu!

Keempat, oleh karena darah tertarik dan terpompa oleh jantung keluar tubuh secara maksimal, maka dihasilkan healthy meat (daging yang sehat) yang layak dikonsumsi oleh manusia. Jenis daging semacam ini sangat sesuai dengan prinsip Good Manufacturing Practice (GMP) yang menghasilkan Healthy Food.


Penyembelihan ala Barat (Western Method)

Pertama, segera setelah dilakukan proses stunning (pemingsanan) , sapi terhuyung jatuh dan collaps. Setelah itu, sapi tidak bergerak-gerak lagi sehingga mudah dikendalikan. Oleh karena itu, sapi dapat dengan mudah disembelih, tanpa meronta-ronta, dan (nampaknya) tanpa rasa sakit. Pada saat disembelih, darah yang keluar hanya sedikit (tidak sebanyak bila disembelih tanpa proses stunning).

Kedua, segera setelah proses pemingsanan, tercatat adanya kenaikan yang sangat nyata pada grafik EEG. Hal tersebut mengindikasikan adanya tekanan rasa sakit yang diderita oleh ternak (pada saat kepalanya dipukul).

Ketiga, grafik EEG meningkat sangat tajam dengan kombinasi grafik ECG yang drop ke batas paling bawah. Hal ini mengindikasikan adanya peningkatan rasa sakit yang luar biasa sehingga jantung berhenti berdetak lebih awal. Akibatnya, jantung kehilangan kemampuannya untuk menarik darah dari seluruh organ tubuh serta tidak lagi mampu memompanya keluar dari tubuh.

Keempat, oleh karena darah tidak tertarik dan tidak terpompa keluar tubuh secara maksimal, maka dihasilkan unhealthy meat (daging yang tidak sehat), sehingga tidak layak dikonsumsi oleh manusia. Disebutkan dalam khasanah ilmu dan teknologi daging (dipelajari di Fak. Peternakan UGM), bahwa timbunan darah (yang tidak sempat keluar pada saat ternak mati/ disembelih) merupakan tempat yang sangat ideal bagi tumbuh kembangnya bakteri pembusuk yang merupakan agen utama perusak kualitas daging.

Maha Suci Allah! Meronta-ronta dan meregangkan otot pada saat ternak disembelih ternyata bukanlah ekspresi rasa sakit! Sangat jauh berbeda dengan dugaan kita sebelumnya! Bahkan mungkin sudah jamak menjadi keyakinan kita bahwa setiap darah yang keluar dari anggota tubuh yang terluka pastilah disertai rasa sakit dan nyeri. Lebih-lebih yang terluka adalah leher dengan luka terbuka yang menganga lebar…!

Hasil penelitian Prof. Schultz dan Dr. Hazim berhasil membuktikan bahwa pisau yang mengiris leher (ref. Syari’at Islam) tidaklah ‘menyentuh’ saraf rasa sakit. Oleh karenanya, beliau berdua menyimpulkan bahwa sapi meronta-ronta dan meregangkan otot bukanlah ekspresi rasa sakit, tetapi hanyalah ekspresi ‘keterkejutan otot dan saraf’ saja (yaitu pada saat darah mengalir keluar dengan deras). Mengapa demikian? Tentunya, hal ini tidak terlalu sulit dijelaskan (grafik EEG tidak menunjukkan adanya rasa sakit).

Apabila telah disembelih, tetapi sapi tidak segera mati, bolehkah kita menusuk jantungnya?

Sering kita melihat bahwa setelah disembelih, banyak sapi yang tidak segera mati. Seringkali pula kita merasa kasihan, sehingga muncul ide di benak kita untuk menusuk jantungnya. Sikap ini umumnya berawal dari kekhawatiran kita kalau-kalau sapi terlalu lama menahan sakit.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Blackmore (1984), Daly et al. (1988), Blackman et al. (1985), dan Anil et al. (1995) di 4 negara yang berbeda membuktikan bahwa setelah disembelih, sapi memerlukan waktu lebih lama untuk benar-benar mati. Hal ini diduga disebabkan oleh ukuran tubuh sapi yang lebih besar dibandingkan kambing, domba, rusa, ayam, dll. Untuk itu, sebaiknya kita menunda hingga sapi benar-benar mati dan tidak perlu menusuk jantungnya. Bila kita menusuk jantungnya, maka jantung akan sobek dan kehilangan fungsinya untuk memompa darah, sehingga darah tidak dapat maksimal terpompa keluar tubuh. Selain itu, sobeknya jantung diduga akan menimbulkan kejutan rasa sakit yang amat sangat bagi hewan ternak yang bersangkutan.


[1] Sekretaris Eksekutif LPPOM Majelis Ulama Indonesia Propinsi DIY dan Dosen Fakultas Peternakan UGM Yogyakarta. Mobile phone : 081 2277 6763

KAMI YANG KINI TERPENJARA


 Oleh . Arif Rahman Pradana


Mahasiswa merupakan tombak kemajuan suatu bangsa, terbukti dalam sejarah orang yang memiliki andil besar dalam perubahan suatu bangsa itu adalah seorang pemuda. Karena dimasa-masa muda inilah seseorang memiliki ambisi dan semangat yang besar dalam melakukan perubahan. Tidak seperti kaum tua, kaum muda lebih menekankan pekerjaan pada tindakan bukan hanya konsepsi dan teori.
                Namun, beberapa tahun belakangan ini kaum muda kebanyakan terperangkap dalam sistem yang memenjarakan semangat dan ambisi mereka untuk melakukan perubahan, kuliah yang padat, tugas yang banyak, dan jam perkuliahan yang sampai sore membuat kegiatan lain diluar perkuliahan yang menekankan pada aspek tindakan seperti bakat alami pemuda di kengkang dengan sistem yang berlaku. Bagaimana mungkin bangsa ini mau maju bila pemudanya dibatasi ruang lingkupnya.
                Memang disisi lain banyak yang beranggapan mahasiswa/pemuda adalah masa dimana seseorang harus belajar dan terus belajar sehingga ketika nanti kita menggantikan pucuk kepemimpinan bangsa ini generasi kita tidak melakukan kesalahan yang sama seperti generasi sebelumnya. Tapi pertanyaannya dengan kita terdidik dan terfokus pada teori apakah kita tidak akan melakukan kesalahan yang sama? Apakah generasi yang lalu tidak terdidik sehingga negara kita tidak mengalami kemajuan dan banyak penyelewengan dimana-mana?
                Coba kita berfikir dari sudut pandang lain, masa SMA tidak mungkin kita dipandang ketika kita melakukan perubahan karena dinilai terlalu dini, ketika mahasiswa kegiatan perkuliahan dan tugas terlalu padat dan anggapan mahasiswa saatnya belajar banyak mengurungkan niat mahasiswa untuk melakukan aktifitasnya selain dibangku kuliah. Setelah kuliah apabila mahasiswa yang mengikuti alur kehidupan normal pasti mencari kerja, menikah dan memiliki anak. Sedangkan yang masih idealis dan mungkin ingin tetap melakukan perubahan masuk kedalam parpol atau LSM. Bagi mahasiswa yang pertama kebanyakan orang yang telah bekerja menikah dan mempunyai anak tidak akan terlalu terfokus pada isu-isu sosial kemasyarakatan karena seorang bapak atau seorang ibu pasti akan memfokuskan segala pikiran dan daya upayanya sepenuhnya untuk anak. Namun bagi mahasiswa jenis kedua yang idealis tadi pasti ada faktor tekanan juga dari keluarga agar jangan terlalu fokus di LSM atau parpol, karena pada perinsipnya dua organisasi tadi merupakan organisasi sosial yang notabennya tidak mendapatkan insentif yang pasti, dan malah cenderung setiap anggota diwajibkan membayar iuran bulanan dll.
                Lalu ketika hal itu sudah terjadi kapan bangsa ini berubah? Kapan bangsa ini maju? Sesungguhnya untuk menjadi pemimpin dan memiliki konsep pemerintahan tidak melulu harus pandai dalam teori, karena teori bisa terlupakan seiring dengan berjalannya waktu, yang terpenting adalah daya analisis yang kuat, kepekaan yang besar, kepedulian dan tanggung jawab.

*ditulis sekitar satu tahun lalu namun belum dipublikasikan